kewarganegaraan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Setelah sekian tahun bebas dari terror bom, Jumat 17 Juli lalu Indonesia kembali disentak. Kali ini hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang menjadi sasarannya. Kita luar biasa terperanjat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Baru saja bangsa ini menggelar Pilpres dengan sukses terselenggara dengan lancar meski sejumlah kecurangan ditengarai. Polisi pun belum lama menangkap sejumlah orang yang diduga kaki tangan Nordin M. Top, yang kemudian disebut sebagai “Kelompok Cilacap”. Yang sepenanganan makin membuat kaget dan penasaran, ledakan terjadi di tengah serangan (tidak pernah disebut sebagai teroris) OPM ke Freeport dan sehari sebelum Manchester United bertandang ke salah satu hotel tersebut. Sekretaris Presiden pun harus turun tangan menghiba ke PM Inggris, agar klub sepakbola terfavorit itu sudi melanjutkan rencana bertanding di Jakarta—meski kemudian gagal. Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah khususnya langkah-langkah aparat keamanan dalam pengungkapan pelaku terorisme, mendapat tanggapan beranekaragam dikalangan masyarakat, khususnya kelompok umat Islam yang sensitif terhadap isu terorisme karena dikaitkan dengan agama islam. Menguatnya perbedaan sikap pro dan kontra sesuai tanpa memperdulikan kepentingan nasional, menimbulkan rasa saling curiga dikalangan masyarakat dan ketidak percayaan terhadap pemerintah khususnya aparat keamanan dalam menangani terorisme di Indonesia.  oleh karena itu perlu diadakan penanganan lebih lanjut untuk memberantas terorisme di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah

a)      Bagaimana tejadinya peristiwa bom mega kuningan jakarta

b)      Bagaimana cara penanganan terorisme di Indonesia


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Keterlibatan Pihak Asing Dalam Tragedi Bom Mega Kuningan

Setelah sekian tahun bebas dari terror bom, Jumat 17 Juli lalu Indonesia kembali disentak. Kali ini hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang menjadi sasarannya. Kita luar biasa terperanjat. Tak pernah terbayangkan sebelumnya. Baru saja bangsa ini menggelar Pilpres dengan sukses—terselenggara dengan lancar meski sejumlah kecurangan ditengarai. Polisi pun belum lama menangkap sejumlah orang yang diduga kaki tangan Nordin M. Top, yang kemudian disebut sebagai “Kelompok Cilacap”.

Sangat menyakitkan, melihat negeri ini terus terkoyak oleh aksi-aksi pengeboman yang dilakukan oleh para teroris. Lebih menyakitkan lagi, para pengebom bunuh diri itu bekerja atas dana dari luar negeri. Dari tangkapan terbaru oleh Densus 88 Mabes Polri, yaitu Iwan Herdiansyah dan Ali Muhammad, didapatkan pengakuan bahwa bom Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton ternyata didanai oleh seseorang dari Timur Tengah. Secara rinci, pengakuan kedua tersangka komplotan pengebom itu bisa menjadi petunjuk mengenai cara operasi mereka. Kita tentu masih ingat, menurut keterangan pengelola hotel, pemesan kamar 1808 Hotel JW Marriott yang membayar sewa kamarnya dengan dolar Amerika. Runutan asal-usul uang dolar itu ternyata cocok dengan salah satu analisis polisi bahwa sebagian uang tunai itu dibawa secara manual dan sebagian lagi melalui transfer. Pertimbangannya, ada ketentuan dari bandara yang tidak memperbolehkan seorang pendatang membawa uang cash melebihi jumlah tertentu.

Melihat kalkulasi yang pernah disampaikan polisi, dana yang dipakai untuk aksi pengeboman di Mega Kuningan berkisar setengah miliar rupiah. Jumlah itu tentu tidak bisa dibilang terlalu sedikit atau terlalu banyak. Mengingat, luka akibat aksi teror itu memang tak terbayarkan. Tapi, begitulah watak teror. Di samping akibat langsung berupa hancurnya bangunan dan korban nyawa, aksi jaringan Noordin itu juga menebar ketakutan yang mencekam. Cobalah kita simak lagi penuturan Ali Muhammad. Orang dari Timur Tengah yang disebut sebagai syekh itu bahkan masih berada di Jakarta saat pengeboman terjadi. Dia ingin menyaksikan kekuatan uangnya dalam menggerakkan orang-orang yang telah dipinang sebagai “pengantin” menyerahkan nyawa. Baru setelah bom benar-benar meledak, kaburlah dia. Mendapati kenyataan bahwa begitu mudah anak-anak negeri ini dihasut untuk menjadi pelaku bom bunuh diri, memang tidak mudah mencari jalan keluarnya. Kalau kemiskinan yang harus diperbaiki, tentu akan sangat panjang penanganannya. Kalau faktor brain yang harus diperbaiki, juga perlu waktu lama. Perlu segera ada jawaban adalah mengapa pengebom bunuh diri itu bisa disetir sedemikian rupa sehingga mau melakukan aksinya tanpa bayaran apa pun. Gratis! Pada saat yang sama, donaturnya begitu ketat mengawasi penggunaan dolarnya. Ada semacam ketidakrelaan kalau uangnya keluar, tapi tanpa bom meledak. Perhitungan seperti itu adalah pertimbangan untung-rugi duniawi.

2.2 Cara Penanganan Terorisme di Indonesia

Pemerintah beserta aparat keamanan dan birokrasi memiliki sikap arif, penuh ketenangan berfikir sehingga mendapatkan cara-cara yang tepat dan akurat dalam menangani terorisme. Masyarakat telah menjadi kesatuan pandang dalam menyikapi melawan terorisme. Kemampuan aparat keamanan telah dapat kerjasama dengan seluruh komponen bangsa. Penegakan hukum dapat diwujudkan dan telah dilengkapi dengan perangkat peraturan perundang-undangan, kerjasama internasional tidak menimbulkan pro dan kontra pemahaman. Kesadaran masyarakat secara aktif berbuat dan melakukan deteksi dini, identifikasi dini dan penangkalan terhadap perkembangan ancaman terorisme yang dilandasi rasa tanggung jawab dan kesadaran yang tinggi, sebagai bangsa yang bermartabat.
Dengan landasan Wawasan Nusantara yang tangguh, bangsa Indonesia diharapkan memiliki sikap mental dan perilaku yang mampu mendeteksi, mengidentifikasi, menilai dan menganalisis sejak dini secara hati-hati terhadap berbagai bentuk ancaman terutama teroris internasional di Indonesia.

Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah khususnya langkah-langkah aparat keamanan dalam pengungkapan pelaku terorisme, mendapat tanggapan beranekaragam dikalangan masyarakat, khususnya kelompok umat Islam yang sensitif terhadap isu terorisme karena dikaitkan dengan agama islam. Menguatnya perbedaan sikap pro dan kontra sesuai tanpa memperdulikan kepentingan nasional, menimbulkan rasa saling curiga dikalangan masyarakat dan ketidak percayaan terhadap pemerintah khususnya aparat keamanan dalam menangani terorisme di Indonesia. Selain itu kerjasama tingkat ASEAN telah dilaksanakan. Sikap kehati-hatian pemerintah Indonesia dalam mencegah dan menanggulangi teroris, dapat dilihat dari kebijakan dan langkah-langkah antisipatif, terkait dengan peristiwa Bali tanggal 12 Oktober 2002. Dalam melakukan pencegahan dan penanggunalanan terorisme pemerintah telah membentuk lembaga-lembaga khusus guna menghadapi terorisme yang berkembang di tanah air belakangan ini, lembaga-lembaga tersebut antara lain :

2.2.1 Intelijen.

Aparat intelijen yang dikoordinasikan oleh Badan Intelijen Negara (Keppres No. 6 Tahun 2003), yang telah melakukan kegiatan dan koordinasi intelijen dan bahkan telah membentuk Joint Analysist Terrorist (JAT) upaya untuk mengungkap jaringan teroris di Indonesia.

2.2.2 TNI dan POLRI

Telah meningkatkan kinerja satuan anti terornya. Upaya penangkapan terhadap mereka yang diduga sebagai jaringan terorisme di Indonesia sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku masih mendapat reaksi kontroversial dari sebagian kelompok masyarakat dan diwarnai berbagai komentar melalui media massa yang mengarah kepada terbentuknya opini seolah-olah terdapat tekanan asing.

2.2.3 Kerjasama Internasional.

Berbagai upaya kerjasama telah dilakukan antara lain dengan beberapa negara seperti Thailand, Singapura, Malaysia, Philipina, dan Australia, bahkan negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Perancis, dan Jepang. Masalah ekstradisi antara pemerintah Singapura dan Indonesia belum terealisasi.

Implikasi terhadap Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Kekhawatiran masyarakat terhadap bahaya teror bom masih ada. Hal ini apabila tidak segera ditangani secara bijak akan mempengaruhi roda perekonomian. Di sisi lain, penindakan, penangkapan atau pemeriksaan oleh aparat terhadap siapa dan organisasi yang ada di masyarakat perlu sikap hati-hati, agar tidak menimbulkan sentimen negatif di kalangan masyarakat itu sendiri, pemerintah diangapnya diskriminatif atau muncul berbias pada permasalahan baru yang bernuansa SARA.

Permasalahan yang dihadapi. Permasalahan yang dihadapi dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme yaitu : Penegakan hukum terhadap sistem kejahatan terorisme masih lemah. Kualitas SDM mudah dimanfaatkan dan masih rentan terhadap aksi penggalangan menjadi simpatisan kelompok teroris. Tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap modus operandi teroris masih lemah. Kemampuan aparat keamanan dalam mendeteksi dini, menangkal, mencegah dan menangkap kelompok teroris masih terkendala baik peralatan maupun koordinasi di lapangan.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Baru saja bangsa ini menggelar Pilpres dengan sukses—terselenggara dengan lancar meski sejumlah kecurangan ditengarai. Polisi pun belum lama menangkap sejumlah orang yang diduga kaki tangan Nordin M. Top, yang kemudian disebut sebagai “Kelompok Cilacap”. Sangat menyakitkan, melihat negeri ini terus terkoyak oleh aksi-aksi pengeboman yang dilakukan oleh para teroris. Lebih menyakitkan lagi, para pengebom bunuh diri itu bekerja atas dana dari luar negeri. Dari tangkapan terbaru oleh Densus 88 Mabes Polri, yaitu Iwan Herdiansyah dan Ali Muhammad, didapatkan pengakuan bahwa bom Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton ternyata didanai oleh seseorang dari Timur Tengah.

Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah khususnya langkah-langkah aparat keamanan dalam pengungkapan pelaku terorisme. Dalam melakukan pencegahan dan penanggunalanan terorisme pemerintah telah membentuk lembaga-lembaga khusus guna menghadapi terorisme yang berkembang di tanah air belakangan ini, lembaga-lembaga tersebut antara lain : Intelijen, TNI dan POLRI , Kerjasama Internasional.

3.2 Saran

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membasmi aksi terorisme di Indonesia,. Tetapi dalam kenyataannya terorisme di Indonesia selalu tersisa. Oleh karena itu menurut saya Pemerintah perlu segera meningkatkan kerjasama dengan negara-negara didunia dalam mencegah dan menanggulangi segala bentuk tindakan terorisme karena kegiatan terorisme di Indonesia sangat berkaitan dengan kegiatan terorisme internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Mabes POLRI, 2003, ”Naskah Strategi Pemberantasan Terorisme” Badan Intelejen Keamanan Mabes POLRI, Jakarta.

Menko Polhukam RI, 2006, “Pedoman Operasi Terpadu Dalam Penanganan Aksi Terorisme”, Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme, Jakarta.

AKSI TEORISME BOM MEGA KUNINGAN

Makalah ini di susun

untuk memenuhi tugas mata kuliah

Pendidikan Pancasila yang dibina oleh Bapak Margono

Disusun Oleh :

Ichwan Dwitya R.

107711406991

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

JURUSAN PJKR

Oktober, 2009

~ oleh ichwan15788 pada November 5, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: