rematik tulang

Mitos Seputar Rematik Tulang

TEMPO Interaktif, Jakarta: Orang awam menyebutnya rematik tulang. Dalam bahasa medis dikenal sebagai rheumatoid arthritis. Peradangan terjadi pada persendian tulang rawan. Jumlah penderitanya di dunia sekitar 1 persen. Trennya terus meningkat, terutama di kalangan kaum Hawa. Hal ini paling tidak terlihat dari data di Amerika Serikat. Studi Mayo Clinic menunjukkan terjadi kenaikan setelah empat dekade kecenderungannya menurun. Perubahan terjadi mulai pertengahan 1990-an. Menurut studi kasus antara 1995 dan 2005, penderita wanita mencapai 54 dari 100 ribu orang, sedangkan pada pria rasionya tetap 29 per 100 ribu orang. Rata-rata responden berusia 56,5 tahun. Namun, seiring dengan peningkatan angka kejadian, persepsi orang terhadap penyakit tak juga berubah, dan beberapa mitos yang salah masih beredar.

Paul Kremer, MD, pakar rematik dari Albany Medical College, New York, menyebutkan peradangan pada tulang yang dikenal sebagai rematik adalah kondisi yang mudah ditemukan. Namun, sebenarnya ada tiga jenis rematik, yakni osteoartritis ketika peradangan terjadi pada sendi tanpa rasa nyeri, kemudian rematik yakni bengkak di sendi dengan rasa nyeri, dan rematik pada tulang rawan. Yang terakhir ini, kata dia, sering kali disalahartikan sebagai osteoartritis. Rematik tulang sering juga dianggap sebagai rematik biasa. Dan inilah yang muncul sebagai mitos di masyarakat. Faktanya, penyakit ini bukan derita artritis yang biasa, baik rematik maupun osteoartritis yang disebabkan oleh kecelakaan atau gangguan persendian yang umum ditemukan karena usia sudah lanjut.

Rematik tulang merupakan kondisi kronis dari gangguan otoimun yang progresif. Pemicunya tidak jelas, tapi tubuh membuat antibodi untuk menyerang jaringan selnya sendiri. Serangan ini sebagian besar berpengaruh pada persendian. Meski begitu, bisa juga berefek pada bagian tubuh lain. Serangannya berlangsung terus-menerus. “Inilah yang paling membingungkan antara osteoartritis dan rheumatoid arthritis (RA). Dan lebih membingungkan lagi karena pasien RA sering kali juga menderita osteoartritis,” Kremer menjelaskan.

Kasus osteoartritis kebanyakan ditemukan pada orang paruh baya atau lebih lanjut. Tidak demikian pada penderita rematik tulang. Sebagian besar serangan terjadi antara usia 30 dan 55 tahun. “Inilah usia puncak untuk penyakit ini. Meski siapa pun bisa menderita karenanya, bahkan juga remaja,” kata Kremer. Namun, pasien tua ada kemungkinan menderita RA yang lebih berat karena serangan penyakit ini progresif dan mungkin manula sudah lama menderitanya.

Orang juga beranggapan RA bukanlah gangguan serius. Faktanya, rematik tulang bisa mengancam kesehatan secara menyeluruh, terutama jika tidak mendapat perawatan yang memadai. “Kebanyakan orang menilai ‘kecil’ RA dengan menganggapnya sebagai rematiknya nenek sehingga mengabaikannya,” ujar Kremer. Walhasil, mereka pun menunda pengobatan, bahkan hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Dalam masa itu, kerusakan pada persendian terus berlangsung.

Padahal Kremer menyatakan RA membutuhkan diagnosis yang cepat dan tepat serta perawatan secara reguler untuk melindungi persendian dari kerusakan. Dan pengobatan lebih awal dan reguler ini bisa melindungi fungsi tulang dalam jangka panjang dan membuat pasien tidak bergantung kepada orang lain.

Kremer menyebutkan rematik tulang juga meningkatkan risiko derita lain, seperti penyakit kardiovaskular, infeksi, dan penyakit paru-paru. “Inilah tiga penyakit yang lekat dengan penderita RA,” ia menegaskan. Sebuah studi terbaru yang dipaparkan akhir bulan lalu mengukuhkan kaitan RA dengan penyakit jantung. Dr Hilal Maradit Kremers, ahli epiodemologi dari Mayo Clinic, Rochester, Minnesota, menyatakan risiko terkena serangan jantung dua kali lipat, selain cenderung mengalami komplikasi.

Kondisi yang diderita pasien ini adalah disfungsi diastolik yang menyebabkan salah bilik di jantung menjadi kaku. Menurut Hilal, kondisi ini bisa berakhir pada gagal jantung. “Pasien RA tidak hanya berpeluang lebih tinggi mengalami serangan jantung dan gagal jantung, tapi juga ada kemungkinan lebih buruk kondisinya bila sekali saja mendapat gangguan kardiovaskular,” ucapnya. Studi lain yang dilakoni Marie Gunnarsson, mahasiswa doktoral pada Institute of Environmental Medicine pada Karolinska Institute di Stockholm, Swedia, bersama koleganya menemukan risiko serangan jantung pada pasien RA dua kali lipat setelah melakukan diagnosis selama 10 tahun.

Ada mitos bahwa kebanyakan pasien RA berakhir di kursi roda atau bergantung kepada perawat di rumah. Faktanya, rematik tulang memiliki kondisi berbeda pada setiap orang. Namun, kebanyakan pasien bisa hidup mandiri. Dari studi selama 20-30 tahun, kata Kremer, ditemukan mayoritas pasien RA yang mendapat perawatan penuh bisa independen dan beraktivitas. Studi terbaru bahkan menyatakan 94 persen pasien RA bisa hidup normal tanpa ketergantungan kepada orang lain setelah hidup dengan penyakit ini selama 10 tahun.

Ada juga yang beranggapan orang dengan RA tidak mampu bekerja. Faktanya, beban kerja atau kegiatan rutin mungkin bisa mengubah derita itu. Namun, mungkin mitos ini benar ketika pengobatan tidak semaju seperti saat ini. “Banyak pasien masih diizinkan bekerja dan biasanya mereka membatasi aktivitas ketika terjadi serangan. Tapi kebanyakan pasien RA bisa tetap bekerja,” Kremer menegaskan.

Banyak pasien RA enggan berobat karena berpikir pengobatannya mengundang racun sehingga sebaiknya menunggu kondisi lebih baik sebelum memulai perawatan. “Ini merupakan mitos yang paling berbahaya,” Kremer mengingatkan. Ada segepok bukti bahwa pengobatan lebih awal bisa mencegah kerusakan pada persendian. “Idealnya pengobatan dilakukan sesegera mungkin setelah diagnosis,” ia menambahkan. Penundaannya akan membuahkan kondisi yang lebih buruk.

Orang juga menganggap mayoritas pasien RA menderita kanker. Faktanya, penderita RA memang berisiko lebih tinggi dibanding kebanyakan orang untuk mengalami kanker darah atau limfoma, tapi risiko kanker secara keseluruhan rendah. “Untuk limfoma, risikonya dua kali lipat, tapi masih belum jelas kenapa,” ujar Kremer. Namun, ia menambahkan, meski risikonya berganda, pasien RA yang menderita limfoma jumlahnya minoritas. Dari sebuah studi yang melibatkan 2.000 pasien RA dan dicermati selama delapan tahun, hanya 11 orang yang menderita limfoma. Pada orang tanpa RA, dalam kurun waktu yang sama yang terserang sebanyak 3-8 orang.

Mitos terakhir, nyeri pada sendi membuat penderita harus istirahat hampir sepanjang hari. Faktanya, justru sebaliknya nyeri sendi karena RA membutuhkan gerakan pelemasan dan latihan kebugaran. Memang beristirahat perlu tapi, kata Kremer, kebanyakan pasien RA harus bergerak dan berolahraga lebih sering, bukannya menguranginya. Otot sekitar persendian menyumbang pada kekuatan dan kestabilan sendi. Walhasil, semua otot perlu latihan reguler untuk tetap sehat.

http://www.tempointeraktif.com/

~ oleh ichwan15788 pada Januari 5, 2010.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: